Surat Untuk Ibu, setiap hari ku kirim.

Kadang kala ingatan masa lalu datang mengganggu, ingat pada Alm. Ibu ku yg telah menghadap Sang Maha Pencipta pada 18 juli 2006 ( Beliau lahir tahun 1924 ). Terutama yang paling aku ingat adalah kasih sayangnya, dongeng-2nya sebelum bobok, dan motivasi-2 yg selalu beliau tanamkan agar kami semua menjadi anak yang sukses. Maklumlah karena beliau dari kecil hingga sepuh hidupnya dalam kekurangan materi dan keterbatasan ilmu. Sehingga beliau tidak ingin putera-putrinya akan mengalami nasib yang sama dengan yang beliau alami.

Sayang pada saat kami semua sudah bisa hidup seperti harapannya, beliau sudah tiada. Untuk menghibur diri dan mengenang jasa-2 beliau kami menulis Puisi ini. Juga selalu mengirim surat seperti janji ku. Insya Allah tidak pernah lupa.

Dibawah ini Puisi ku :

Ibu…..Dimata dan hati putra-putrimu,

Engkau adalah seorang Ibu yang mulia, dan dimuliakan Allah.

Engkau telah melahirkan kami, engkau ikhlas menyusui, merawat, membimbing kami.

Dan berjuang untuk kami hingga kami seperti saat ini.

Engkau selalu mengajarkan kepada kami tentang arti kejujuran yang harus diperjuangkan,

Disiplin yang harus ditegakkan dan kerja keras yang harus dilakukan ‘tuk raih cita-2.

Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, serta ridho Nya.

Engkau antarkan kami, menjadi anak-2 mandiri seperti cita-2 dan harapanmu.

Ibu,…… Diusia senjamu, engkau pun selalu rela membantu anak-2mu yang sedang kesulitan.

Dengan tenaga dan doa.

Ibu….. Kepergianmu, meninggalkan kenangan teramat dalam.

Ijinkanlah kami mengiringi kepergianmu, bukan dengan isak tangis dan air mata.

Biarlah kami mengantarmu dengan rasa ikhlas dan ridho, untuk menghadap Sang Khaliq….

Allah SWT Sang Pencipta.

Ibu,….. Maafkanlah kami bila kami belum bisa membahagiakanmu.

Belum puas kami berbagi bahagia denganmu.

Ingin rasanya kami buatkan sorga….. Jannatun Naim untuk mu Ibu…..

Setiap hari, setiap saat…… Insya Allah, kami akan selalu mengirim surat padamu Ibu……

Surat Al-Fatihah serta doa memohonkan ampunan Nya.

Robbighfirli waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

Yaa Allah,….. Semoga seluruh amal ibadah, kebaikan dan pengorbanannya Engkau terima……

Semoga segala khilaf dan salahnya Engkau ampuni…..

Semoga arwah beliau, Engkau berikan tempat terbaik disisi Mu.

Ibu….. aku ingin sepertimu dan memperoleh sorgamu.

Ditulis ulang, 2 April 2010.

Putra-putrimu : Endang, Kuncoro, Woro ( sekarang Almarhum )

Ibu Ku Malaikat Ku…..

Ibu adalah segalanya bagi ku, sejak ayah ku meninggal dunia saat aku dan adikku masih belum sekolah peran dan sosok Ibulah yang dominan dalam hidupku. Beliau telah berjuang dan bekerja keras buat membesarkan putra-putrinya. Menurut cerita Ibuku, beliau sangat bahagia hidupnya. Ayahku seorang tantara, keluarga muda beranak satu yang hidup dalam kecukupan. Ketika umurku 3 tahun pada tanggal 17 Desember 1953 aku dapat hadiah dari Allah seorang adik laki-laki yang montok. Jadi aku dan adikku memiliki tanggal lahir yang sama hanya beda tahun. Aku lahir pada 17 Desember 1950, hebat ya Ayah dan Ibuku dalam berkarya. Melahirkan dua orang anak denagn tanggal yang sama, tidak mudah lho. Kalo gak percaya coba saja sendiri.

Ibu mu adalah Malaikat mu,…..
Ibu mu adalah Surga mu,……
Ibu mu adalah Guru Sejati mu,…..
Ibu tidak saja sebagai pendidik, tapi……..
Ibu adalah penyelamat Generasi Penerus.
Jadikanlah diri mu seorang Ibu yang layak disebut Ibu……..

Sejak ayahku tiada pada tahun 1955 peran keluarga besar terutama Kakek lebih dominan, apa kata Kakek ya itulah yang harus beliau lakukan. Waktu itu sekitar tahun 1956 Ibuku dijodohkan dengan seorang duda tanpa anak. Dengan harapan Ayah tiriku akan mencintai cucu-2nya. Ternyata Ibuku tidak mudah mencintai suami barunya, begitu beliau suka cerita pada ku.

Aku sangat mensyukuri biarlah Ayah ku meninggal lebih dulu yang penting aku masih punya Ibu, resikonya kehilangan ayah adalah kehilangan tiang utama (Jawa : Soko Guru) dari keluarga. Sehingga masalah ekonomi pasti berdampak sistemik ( pinjam istilah populer kasus Bank Century) dalam ekonomi rumah tangga dan keluarga. Maklum saja pada saat itu pada umumnya tentara gak ada yang kaya seperti sekarang. Hidup kami bertiga ditobang bantuan dari Kakek, yang namanya penerima bantuan ya pasti tidaklah nyaman. Intervensi pasti terjadi, termasuk dalam hal perjodohan. Memang pada tahun 50an posisi kaum wanita masih sangat lemah hak-haknya wanita juga tidak punya posisi tawar. Yah akhirnya terima nasib sajalah.

Dengan tidak meremehkan peran Ayah, banyak pihak mengakui bahwa peran Ibu lebih besar dalam keluarga. Bahkan banyak juga Ibu-Ibu yang mampu mempertahankan kejandaannya demi berjuang untuk masa depan anak-anaknya.  Berperan ganda didalam keluarga, sering disebut “Single Parent” itulah hebatnya Ibu. Ya berperan sebagai Ayah juga sebagai Ibu bagi putra-putrinya.

Rosulullah menempatkan posisi seorang Ibu sangat tinggi diatas kaum pria. Dalam hadis shahih diriwayatkan bahwa ada seseorang bertanya pada Rosul :”Siapakah orang yang pantas aku hormati ya Rosul?” Jawab Rosul : “Ibu mu.” “Lalu setelah itu siapa lagi Ya Rosul? Jawabnya “Ibu mu.” Masih belum puas orang itu bertanya lagi : “Sesudah itu siapa lagi ya Rosul?” jawabnya lagi : “Ibu mu” sudah tiga kali jawab Rosul tetap “Ibu mu.” Orang itu tetap masih penasaran bertanya lagi: “Setelah itu siapa lagi ya Rosul?” Jawab Rosul : “Ayah mu”. Jadi kedudukan Ayah dapat peringkat keempat, sementara Ibu menduduki peringkat 1 sampi 3.

Negara Republik Indonesia pun menempatkan posisi Ibu sangat istimewa dan terhormat, ada “IBU NEGARA” karena beliau adalah istri dari Kepala Negara ( Bukan Bapak Negara ). Ada “Ibu Kartini” tokoh wanita bangsawan yang sangat peduli pada kaumnya dimasa itu. Beliau sangat dikenal dan dihormati kaum wanita Republik ini sebagai tokoh emansipasi wanita. dengan kumpulan surat-suratnya yang dikenal dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sebentar lagi kita akan memperingati “Hari Kartini” pada tanggal 21 April. Setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, sementara dinegeri ini tidak memiliki “Hari Bapak”. Ada pula sosok Ibu yang imaginatif yaitu “Ibu Pertiwi” sosok Ibu yang diagungkan penduduk seluruh negeri bahkan ada lirik lagunya seperti ini : “Ku lihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati…… Silahkan diteruskan sendiri.

Ada lagi sosok Ibu yang sangat mempesona orang banyak. Ibu yang jadi tumpuan harapan buat orang yang ingin sukses dalam berkarier. Sehingga banyak orang rela meninggalkan kampung halaman untuk merantau, mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, mobil mewah, rumah bagus dan jabatan empuk atau basah. Siapa lagi kalo bukan sosok si Ibu perkasa, beliau sering disebut “Ibukota.” Omong-omong tentang “Ibukota” ini konon katanya lebih kejam dari sosok “Ibu Tiri” saking kerasnya kehidupan dikota-kota besar seperti Jakarta ini.

Maaf ya kok jadi makin ngelantur bicaranya, tapi emang kalo kita berbicara tentang tokoh Ibu, tidak akan ada habisnya. Dijaman serba sulit ini peran Ibu tidak hanya jadi “Konco Wingking” atau Ibu yang hanya memiliki peran didapur saja. Ibu masa kini dituntut harus cerdas, karena Ibu yang cerdas akan mudah terinspirasi pada hal-hal yang positif. Jujur saja peran “Ibu Masa Kini” sangat berat tugasnya., jaman sekarang menjadi “Ibu Biasa-Biasa ” saja tidak cukup “Ibu Masa Kini” harus berani menjadi “Ibu Luar Biasa” Ibu yang berani menjadi agen perubahan. Tidak saja Ibu sebagai pendamping suami yang sering disebut “Ibu Rumah Tangga” tapi juga dituntut menjadi Ibu yang berperan aktif dimasyarakat dan menjadi Ibu yang produktif tidak hanya jadi Ibu yang konsumtif. Ibu sebagai wanita karir membantu suami dalam menopang ekonomi keluarga. Bahkan Ibu yang berprestasi pun  sudah banyak menjadi Pejabat Negara menjadi Menteri, menjadi Anggota Legeslatif maupun Yudikatif  juga mendapat tugas negara jadi Duta Besar dinegara tetangga dan lain-lain.

Namun demikian fungsi dan tugas sebagai ibu tetap menjadi tanggung jawabnya, tidak bisa ditinggalkan  atau digantikan oleh orang lain. Harapan saya pada Ibu-ibu Indonesia marilah kita jadikan diri kita IBU-IBU YANG LUAR BIASA. Peran Ibu tidak diragukan lagi dalam hal pendidikan dan tumbuh kembang bagi anak-anaknya. Ibu  bertanggung jawab pada masa depan putra-putrinya, mampu menjadi sahabat tempat curhat dan menjadi tempat anak-anak mencari solusi menyelesaikan masalah-masalah pribadinya.

Satu lagi kelebihan yang dimiliki seorang Ibu dan tidak dimiliki seorang ayah…. yaitu seorang Ibu memiliki deposito atau jadangan makanan bergizi terbaik didunia bagi bayinya. ASI ( Air Susu Ibu ) yang dimilikinya adalah makanan bayi terbaik… susu formula termahal pun tidak bisa menandinginya.

Pesan saya pada Ibu-Ibu didunia pada umumnya dan Ibu-Ibu Indonesia khususnya berikanlah ASI untuk bayi mu karena  ASI hak bagi anak-anak mu yang Allah amanahkan padamu.

Sumber :=>http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/03/ibu-ku-malaikat-ku/

SELAMAT HARI KARTINI. !!!

Tags: Pertiwi, Malaikat, Ibu, Hari Kartini, Ibukota, Tiri

Harta Soekarno

21 January 2008

Harta Soekarno

Posted by iman under: SOEKARNO .

emas.jpg TD Pardede , tokoh pengusaha asal Medan jaman dulu jika masih hidup tentu akan tercengang membaca berita majalah Tempo minggu ini :
Dari luar ruangan, sejumlah tokoh melihat pertemuan itu berlangsung dingin. Teh dalam cangkir berlogo Istana Presiden yang diangkut dari rumah Soeharto, tak disentuh. Hendarman – Jaksa Agung – kata sumber itu, lalu mengajukan konsep penyelesaian di luar pengadilan. Diantaranya, keluarga Soeharto harus membayar 4 trilyun kepada negara. Ini sepertiga dari tuntutan Pemerintah, yakni US $ 420 juta dan Rp 185 milyar plus ganti rugi immaterial Rp 10 trilyun atas Yayasan Supersemar .
Mbak Tutut dan adik adiknya hanya terdiam mendengar angka yang diajukan Pemerintah “
.

Si ompung yang dekat dengan Bung Karno pasti teringat saat suatu hari dia dipanggil mendadak ke Jakarta. Mengetahui betapa miskinnya sang Presidennya. Setelah ngobrol ngobrol bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.
“ Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ? “
Gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri. TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan mengembalikan sisanya kepada Pardede.

Lain cerita salah satu ajudan terakhir,Putu Sugianitri seorang bekas Polisi wanita yang juga harus pensiun tanpa kejelasan. Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno jalan jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan. ” Tri , beli rambutan “.
” Uangnya mana ? ” tanya si polwan asal Bali itu.
sing ngelah pis ” kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya ” saya tak punya uang “.
Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang.

Ada juga cerita dari Bang Ali Sadikin.
Saat ia menjabat Menko Maritim. Ia ditanya oleh Bung karno apakah ia bisa membantu bisnis mertua Bung Karno yang berkaitan dengan perijinan pelabuhan. Setelah dipelajari Ali Sadikin mengatakan tidak bisa. Peraturan mengatakan demikian.
“ Ya sudah , kalau tidak bisa “ kata Bung Karno.
Bang Ali berpikir. Luar biasa ini manusia. Padahal sebagai Presiden ia bisa memaksakan memberi perintah. Yang mengagumkan Bung Karno selanjutnya tidak pernah dendam, bahkan kelak mengangkat May.Jend KKO Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta.

keluarga-soekarno.jpgDari cerita tersebut diatas, kita tahu Bung Karno tidak pernah peduli dengan uang atau harta. Ketika turun dari kekuasaan kita tak pernah tahu bahwa Bung Karno dan keluarganya meninggalkan kekayaan yang melimpah ruah.
Saat mendapat surat dari Jenderal Soeharto, bahwa Bung Karno harus meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal 16 Agustus 1967. Maka teman teman Bung Karno yang mengetahui rencana itu segera menawarkan dan menyediakan 6 rumah untuk tempat tinggal dan putera puteri Bung Karno.
Mendengar hal itu Bung Karno seketika marah, bahwa ia tidak menghendaki rumah rumah itu. Ia menginginkan semua anak anaknya pindah ke rumah Ibu Fatmawati.
Semua anak anak kalau meninggalkan Istana tidak boleh membawa apa apa, kecuali buku buku pelajaran, perhiasan sendiri dan pakaian sendiri. Barang barang lain seperti radio , televisi dan lain lain tidak boleh dibawa ! “
Demikian Bung Karno memerintahkan.
Guntur – putera tertua – setelah mendengar penjelasan itu merasa kecewa, karena ia sudah terlanjur menggulung kabel antenna TV yang akhirnya tidak boleh dibawa pergi.

Sementara Ibu Fatmawati mengeluh karena kamar di rumahnya tidak cukup.
Tak berapa lama datang truk dari Polisi yang membawa 4 tempat tidur dari kayu yang bersusun, dengan kasur dan bantalnya tapi tanpa sprei dan sarung bantal. Juga beras 6 karung.
“ Anak anakku semua disuruh tidur di tempat tidur susun dari kayu, tanpa sprei dan sarung bantal “
Konon Ibu Fat, marah marah kepada utusan yang membawa perlengkapan itu.

Bung Karno keluar dari istana dengan mengenakan kaos oblong cap cabe dan celana piyama warna krem. Baju piyamanya disampirkan ke pundak, dan ia memakai sandal bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang kertas Koran yang digulung, berisi bendera pusaka merah putih. Bendera yang dijahit oleh istrinya sendiri, ibu Fatmawati ketika masa proklamasi kemerdekaan dahulu.
Tak ada voor ridjer, pengawalan atau penghormatan seperti ketika Presiden Soeharto – yang diantar Jenderal Wiranto sampai ke mobil Mercedes – meninggalkan Istana Merdeka setelah menyerahkan jabatannya kepada Habibie.

tugu.jpgIa meninggalkan istana dengan mobil vw kodok yang dikendarai seorang supir asal kepolisian. Salah seorang anggota kawal pribadinya membawakan ovaltine, minuman air jeruk, air teh, air putih, kue kue serta obat obatan Bung Karno.
Itulah seluruh harta yang dimiliki Bung Karno ketika meninggalkan Istana.
Selebihnya ditinggalkan.
Kelak harta kekayaan Soekarno yang ditinggal di Istana didata oleh pihak penguasa dengan dibuatkan berita acara. Barang barang itu mulai dari logam emas batangan, lukisan lukisan, buku buku, pakaian, minyak wangi, bolpen, uang dollar yang semuanya bernilai tidak sedikit. Dan semua itu tidak pernah diserahkan kepada Bung Karno atau keluarganya. Tidak jelas siapa yang mewarisi.
Pada akhirnya tidak penting juga mewarisi sebuah kekayaan. Karena dia bukan berhala harta. Hanya sebuah janji yang tersisa yang wajib kita jaga, untuk sebuah Indonesia yang bersatu dan bermartabat. Tidak ada juga deal deal khusus. Hanya sebuah persetujuan dalam segenggam bait puisi Chiril Anwar.
Janji itu terus melintas jaman. Sampai kapanpun.

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
( Persetujuan dengan Bung Karno – Chairil Anwar )

DON’T CRACK UNDER PRESSURE

Ini adalah sepenggal kisah tentang orang-orang yang pantang menyerah dengan keterbatasan secara fisik. Sikap dan cara mereka menghadapi kehidupan malah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Begitulah tulisan yang menjadi sub judul dimajalah Motivasi “LUAR BIASA” yang terbit pada bulan Maret 2009. Majalah motivasi ini terbit secara berkala sebulan sekali, terbit pertama pada bulan Januari 2009.