Harta Soekarno

21 January 2008

Harta Soekarno

Posted by iman under: SOEKARNO .

emas.jpg TD Pardede , tokoh pengusaha asal Medan jaman dulu jika masih hidup tentu akan tercengang membaca berita majalah Tempo minggu ini :
Dari luar ruangan, sejumlah tokoh melihat pertemuan itu berlangsung dingin. Teh dalam cangkir berlogo Istana Presiden yang diangkut dari rumah Soeharto, tak disentuh. Hendarman – Jaksa Agung – kata sumber itu, lalu mengajukan konsep penyelesaian di luar pengadilan. Diantaranya, keluarga Soeharto harus membayar 4 trilyun kepada negara. Ini sepertiga dari tuntutan Pemerintah, yakni US $ 420 juta dan Rp 185 milyar plus ganti rugi immaterial Rp 10 trilyun atas Yayasan Supersemar .
Mbak Tutut dan adik adiknya hanya terdiam mendengar angka yang diajukan Pemerintah “
.

Si ompung yang dekat dengan Bung Karno pasti teringat saat suatu hari dia dipanggil mendadak ke Jakarta. Mengetahui betapa miskinnya sang Presidennya. Setelah ngobrol ngobrol bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.
“ Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ? “
Gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri. TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan mengembalikan sisanya kepada Pardede.

Lain cerita salah satu ajudan terakhir,Putu Sugianitri seorang bekas Polisi wanita yang juga harus pensiun tanpa kejelasan. Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno jalan jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan. ” Tri , beli rambutan “.
” Uangnya mana ? ” tanya si polwan asal Bali itu.
sing ngelah pis ” kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya ” saya tak punya uang “.
Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang.

Ada juga cerita dari Bang Ali Sadikin.
Saat ia menjabat Menko Maritim. Ia ditanya oleh Bung karno apakah ia bisa membantu bisnis mertua Bung Karno yang berkaitan dengan perijinan pelabuhan. Setelah dipelajari Ali Sadikin mengatakan tidak bisa. Peraturan mengatakan demikian.
“ Ya sudah , kalau tidak bisa “ kata Bung Karno.
Bang Ali berpikir. Luar biasa ini manusia. Padahal sebagai Presiden ia bisa memaksakan memberi perintah. Yang mengagumkan Bung Karno selanjutnya tidak pernah dendam, bahkan kelak mengangkat May.Jend KKO Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta.

keluarga-soekarno.jpgDari cerita tersebut diatas, kita tahu Bung Karno tidak pernah peduli dengan uang atau harta. Ketika turun dari kekuasaan kita tak pernah tahu bahwa Bung Karno dan keluarganya meninggalkan kekayaan yang melimpah ruah.
Saat mendapat surat dari Jenderal Soeharto, bahwa Bung Karno harus meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal 16 Agustus 1967. Maka teman teman Bung Karno yang mengetahui rencana itu segera menawarkan dan menyediakan 6 rumah untuk tempat tinggal dan putera puteri Bung Karno.
Mendengar hal itu Bung Karno seketika marah, bahwa ia tidak menghendaki rumah rumah itu. Ia menginginkan semua anak anaknya pindah ke rumah Ibu Fatmawati.
Semua anak anak kalau meninggalkan Istana tidak boleh membawa apa apa, kecuali buku buku pelajaran, perhiasan sendiri dan pakaian sendiri. Barang barang lain seperti radio , televisi dan lain lain tidak boleh dibawa ! “
Demikian Bung Karno memerintahkan.
Guntur – putera tertua – setelah mendengar penjelasan itu merasa kecewa, karena ia sudah terlanjur menggulung kabel antenna TV yang akhirnya tidak boleh dibawa pergi.

Sementara Ibu Fatmawati mengeluh karena kamar di rumahnya tidak cukup.
Tak berapa lama datang truk dari Polisi yang membawa 4 tempat tidur dari kayu yang bersusun, dengan kasur dan bantalnya tapi tanpa sprei dan sarung bantal. Juga beras 6 karung.
“ Anak anakku semua disuruh tidur di tempat tidur susun dari kayu, tanpa sprei dan sarung bantal “
Konon Ibu Fat, marah marah kepada utusan yang membawa perlengkapan itu.

Bung Karno keluar dari istana dengan mengenakan kaos oblong cap cabe dan celana piyama warna krem. Baju piyamanya disampirkan ke pundak, dan ia memakai sandal bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang kertas Koran yang digulung, berisi bendera pusaka merah putih. Bendera yang dijahit oleh istrinya sendiri, ibu Fatmawati ketika masa proklamasi kemerdekaan dahulu.
Tak ada voor ridjer, pengawalan atau penghormatan seperti ketika Presiden Soeharto – yang diantar Jenderal Wiranto sampai ke mobil Mercedes – meninggalkan Istana Merdeka setelah menyerahkan jabatannya kepada Habibie.

tugu.jpgIa meninggalkan istana dengan mobil vw kodok yang dikendarai seorang supir asal kepolisian. Salah seorang anggota kawal pribadinya membawakan ovaltine, minuman air jeruk, air teh, air putih, kue kue serta obat obatan Bung Karno.
Itulah seluruh harta yang dimiliki Bung Karno ketika meninggalkan Istana.
Selebihnya ditinggalkan.
Kelak harta kekayaan Soekarno yang ditinggal di Istana didata oleh pihak penguasa dengan dibuatkan berita acara. Barang barang itu mulai dari logam emas batangan, lukisan lukisan, buku buku, pakaian, minyak wangi, bolpen, uang dollar yang semuanya bernilai tidak sedikit. Dan semua itu tidak pernah diserahkan kepada Bung Karno atau keluarganya. Tidak jelas siapa yang mewarisi.
Pada akhirnya tidak penting juga mewarisi sebuah kekayaan. Karena dia bukan berhala harta. Hanya sebuah janji yang tersisa yang wajib kita jaga, untuk sebuah Indonesia yang bersatu dan bermartabat. Tidak ada juga deal deal khusus. Hanya sebuah persetujuan dalam segenggam bait puisi Chiril Anwar.
Janji itu terus melintas jaman. Sampai kapanpun.

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
( Persetujuan dengan Bung Karno – Chairil Anwar )

DON’T CRACK UNDER PRESSURE

Ini adalah sepenggal kisah tentang orang-orang yang pantang menyerah dengan keterbatasan secara fisik. Sikap dan cara mereka menghadapi kehidupan malah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Begitulah tulisan yang menjadi sub judul dimajalah Motivasi “LUAR BIASA” yang terbit pada bulan Maret 2009. Majalah motivasi ini terbit secara berkala sebulan sekali, terbit pertama pada bulan Januari 2009.

Aku Ingin Menang…. Don’t Just Dreaming, Start Action.!!!

=> Video entry for The World Bank Essay and Video Competition 2010-Youth Unemployment submitted by Panji Suntara. Writer thinks that many young people doesn’t have confidence to make their own business because of various reasons. Habibie Afsyah used as role model in this video to motivate other young people to revive from unemployment issue, becuae every young people have potential to solve the problem as long as they can open their mind, be patient, and have strong willingness to move forward. Habibie with his physical disability can prove it.

Beberapa minggu lalu aku buat postingan tentang lomba di World Bank. Diatas aku share hasil video rekaman yang telah ikut dilombakan. Anda juga bisa mengakses beberapa video milik peserta sesama dari Indonesia maupun dari negara-2 lain. Silahkan menikmatinya dan juga bisa anda buat estimasi sendiri kira-2 negara mana yang layak memenangkan lomba ini.

Tentu saja tidak munafik,  aku ingin menang.

Dibawah ini postingan terdahulu :

http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/19/habibie-ikut-lomba-di-world-bank/

http://umum.kompasiana.com/2010/02/20/dont-just-dreaming-start-action/

Mohon doa restu Anda…. Thank’s.

Bunuh Diri Bergeser ke Usia Produktif

Aku sangat prihatin bahkan sedih melihat kondisi saat ini dimana pengangguran dikalangan para entelektual  muda makin meningkat. Lihat saja setiap ada iklan tentang lowongan kerja dibuka, maka ribuan bahkan puluhan ribu kalangan muda terdidik ( S1 ) akan berduyun-duyun datang untuk mengadu nasib. Siapa tau bisa meraih peluang yang ada.


Suatu hari diperjalanan ku dari Jakarta-Magelang buat iseng isi waktu diperjalanan aku beli harian Kompas terbitan Rabu 23 Februari 2010. Buka sana buka sini ketemu sebuah artikel menarik dibawah ini, tentang bunuh diri yang terjadi dikalangan remaja. Disamping ini aku lampirkan berita/artikel dari harian Kompas dimaksud berjudul : Bunuh Diri Bergeser Pada Usia Produktif. Sungguh memprihatinkan ya? Ternyata Indonesia juga sudah kena dampaknya.

Sekitar pertengahan Februari 2010 ada email masuk ke akun Facebook anak ku dari seseorang yang belum aku kenal, namanya Panji Suntara.  Kami sempat bertegur sapa dan saling memperkenalkan diri via email, komunikasi pun berlanjut by phone. Ngomong-ngomong lebih lanjut mas Panji seorang produser film spesial  lomba-2 ilmiah untuk kejuaraan dunia ingin menjadikan anakku menjadi roll model filmnya.  Habibie menyetujui, saya dan mas Panji membuat kesepakatan untuk menjalin kerja sama.

Singkat cerita,  mas Panji ingin membuat film layanan masyarakat berdurasi paling lama 2 menit, yang rencananya akan dilombakan di World-Bank. Alhamdulillah Habibie terpilih menjadi roll model…. wah kaget juga lo. To the point saja ya,  mas Panji itu sedang cari-2 figur seorang anak muda yg mandiri…… kemana lagi kalo gak tanya ke Om Google. Akhirnya ketemulah sosok Habibie Afsyah disana, yang menurut penilaian mas Panji cocok dengan figur yang diinginkannya.Sengaja mas Panji mengambil roll model seorang Habibie yang walaupun dalam kondisi penuh keterbatasan namun tetap berjuang dalam hidupannya  menjadi manusia yang mandiri. Ada pesan moral yang ingin disampaikan oleh Mas Panji sebagai produser untuk menjawab situasi yang terjadi saat ini. Bahwa seorang Habibie yang nota bene lemah namun masih punya  kekuatan dan kemampuan untuk menjalani hidup mandiri. Dijaman yang serba sulit ini untuk menata hidupnya dimasa yang akan datang lebih baik lagi.

Harapan produser semoga orang-2 yang nasibnya lebih baik dan diberikan nikmat serta kesempurnaan fisik, lebih berani menghadapi tantangan dan tuntutan jaman. Kita tidak sendirian dalam kesulitan, tengoklah mereka yang hidupnya kurang beruntung tapi berani melawan arus kehidupan yang sedang tidak berpihak ini.

Cerita punya cerita, konon katanya dunia sedang prihatin menghadapi keadaan yang sangat tidak kondusif, dengan maraknya pengangguran yang sedang melanda dunia. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja hal ini terjadi bahkan negara-2 maju dan negara industri pun juga mengalaminya. Tentu saja hal ini membuat pihak-2 tertentu tidak bisa tinggal diam. Badan dunia WHO dan World-Bank pun sangat peduli dan mencari solusi untuk mengatasinya. Terlebih bagi Negara-2 berkembang mendapat perhatian yang lebih besar, mengingat angka pengangguran justru terjadi pada usia-2 muda dan produktif.

Kabar buruknya lagi bahkan angka bunuh diri dikalangan remaja atau anak muda meningkat tajam, ada kabar sampai terjadi bunuh diri masal dikalangan remaja yang putus asa.

Ayolah kawan rapatkan barisan, kuatkan iman dan kemauan mu dengan terus bekerja keras dan berpikir cerdas untuk merubah dan meraih kehidupan lebih baik.

Harapan ku semoga film ini memperoleh penghargaan tertinggi di kancah lomba Bank Dunia (World-Bank). Mengingat lomba tahun 2009 juga dimenangkan oleh Indonesia dengan tema Global Warming.

KLIK saja :  http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/19/habibie-ikut-lomba-di-world-bank/

Insya Allah….. BE NUMBER 1….. Mohon doa restu Anda semua.

Sebarkan Tulisan ini :

Tanggapan Tulisan

19 Maret 2010 13:55
0

Ibu Habibie… bravo! Semoga menang ya. Bagaimana kabar Ibu dan berbagai anak asuh yang selalu dibimbing tanpa lelah?
Salam hangat Kompasiana !

19 Maret 2010 14:05
0

saya kira BJ habibie :)

19 Maret 2010 15:41
0

@ Linda : Hallo ibu Linda makasih komennya, mohon doanya ya bisa menang. Maklum pesaingnya dari negara lain pasti juga hebat-2. Alhamdulillah Bu mereka masih terus berjuang u/bisa mandiri.
Salam Kompasiana juga.

19 Maret 2010 15:44
0

@ Tarzanningrat : Iya pak Tarzan saya lg coba-2 praktek membuat judul yg menjebak seperti tulisan teman-2 Kompasianer lain. Learning by doing, gitu.