Aug 29, 2009
Posted by admin in Inspirasi, Motivasi | 0 Comments
Berkah Kekurangan (esai)
Bayu Dharmawan wroteon August 25, 2009 at 4:19pm
SETIAP Ramadhan tiba selalu saja diiringi munculnya fonomena sosial yang sangat positif. Yakni meningkatnya perhatian kalangan berpunya kepada mereka yang kebetulan tak ada-berada.
Biasanya, sepanjang bulan Ramadhan, orang kaya rajin menyedekahkan sebagian hartanya kepada mereka yang kekurangan. Baik kepada peminta-minta di jalanan maupun diantarkan ke panti-panti asuhan. Bahkan tak sedikit orang kaya yang sengaja membuka lebar-lebar pintu gerbang gedung megahnya, agar orang yang membutuhkan uluran tangan bisa dengan gampang masuk untuk mengambil bingkisan yang telah disediakan. Juga tak sedikit orang kaya yang masuk ke kantong-kantong kemiskinan untuk secara langsung membagikan bingkisan makanan.
Singkat kata, Ramadhan memang beda dari sebelas bulan lainnya. Kalau di bulan biasa banyak orang berpunya seakan lupa akan warga yang setiap hari didera lapar dan dahaga, maka pada Ramadhan kebanyakan orang kaya selalu ingat akan penderitaan orang-orang yang kekurangan.
Boleh jadi, fenomena ini menjadi salah satu bukti bahwa Ramadhan memang benar-benar bulan yang penuh berkah.
Berkah bagi orang kaya karena telah membagikan kelebihan hartanya, dan terutama berkah bagi yang papa karena teratasi kekurangan kebutuhan hidupnya.
Tapi, bisa jadi juga bahwa kemurahan kita pada bulan Ramadhan untuk berbagi kelebihan ini masih dilandasi perhitungan. Sebab, segala amal kebaikan di bulan Ramadhan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Nah, jangan-jangan kebaikan yang kita lakukan masih juga dilandasi tujuan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kalau memang demikian niatnya, tentu Allah yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana punya perhitungan tersendiri pula. Wallahua’lam.
Di sisi lain, setiap Ramadhan tiba selalu saja diiringi oleh semakin banyaknya peminta-minta. Bahkan orang yang sehat wal afiat pun tanpa malu-malu menadahkan tangannya. Juga mereka yang muda, yang masih gagah perkasa, tak sungkan-sungkan memperlihatkan wajah muram agar mengundang belas kasihan.
Meski demikian, selalu saja ada orang kekurangan, bahkan orang yang teramat sangat kekurangan, yang begitu teguh hati menerima keadaan. Selalu ada orang buta yang tak mau memohon belas kasihan. Selalu ada orang lumpuh yang tak rela menadahkan tangan. Selalu ada orang tak punya tangan yang enggan minta santunan.
Setidaknya demikianlah dikisahkan dalam buku “Excellent Stories” terbitan Husaini Shia Islamic Centre Wood Lane, Stanmore-United Kingdom, yang diterjemahkan oleh Nailul Aksa menjadi “Cerita Cerita Favorit”. Dikisahkan, pada suatu ketika Nabi Isa as bertanya kepada Allah tentang orang yang kala itu paling dekat dengan-Nya. Allah pun memberikan petunjuk kepada Nabi Isa agar menemui orang bernama Mu’mina. Yakni seorang wanita yang tak memiliki kaki, tak memiliki tangan, dan juga tak memiliki mata. Ia hidup cuma dari belas kasihan orang yang lewat. Ia tak pernah menadahkan tangan, tapi selalu bersyukur kepada Allah. “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah memberi anugerah kepadaku sedemikian banyaknya…,” ujarnya selalu, tanpa henti.
Mendengar itu, Nabi Isa pun keheranan, bagaimana mungkin orang yang sangat kekurangan ini bisa berkata demikian?
Dan Mu’mina dengan tenang menjawab, “Dia telah menganugerahkan kepadaku ingatan kepada-Nya. Dia telah melepaskanku dari kaki yang akan berjalan pada jalan yang haram. Dia telah melepaskanku dari tangan yang akan melakukan tindakan haram. Dia telah melepaskanku dari mata yang akan memandang yang haram. Dan lidahku telah dianugerahi-Nya dengan pujian kepada-Nya, Alhamdulillah. Katakan kepadaku, berapa nilai keberkahan dari semua anugerah Allah itu?” ujarnya.(Almin Hatta)
Biasanya, sepanjang bulan Ramadhan, orang kaya rajin menyedekahkan sebagian hartanya kepada mereka yang kekurangan. Baik kepada peminta-minta di jalanan maupun diantarkan ke panti-panti asuhan. Bahkan tak sedikit orang kaya yang sengaja membuka lebar-lebar pintu gerbang gedung megahnya, agar orang yang membutuhkan uluran tangan bisa dengan gampang masuk untuk mengambil bingkisan yang telah disediakan. Juga tak sedikit orang kaya yang masuk ke kantong-kantong kemiskinan untuk secara langsung membagikan bingkisan makanan.
Singkat kata, Ramadhan memang beda dari sebelas bulan lainnya. Kalau di bulan biasa banyak orang berpunya seakan lupa akan warga yang setiap hari didera lapar dan dahaga, maka pada Ramadhan kebanyakan orang kaya selalu ingat akan penderitaan orang-orang yang kekurangan.
Boleh jadi, fenomena ini menjadi salah satu bukti bahwa Ramadhan memang benar-benar bulan yang penuh berkah.
Berkah bagi orang kaya karena telah membagikan kelebihan hartanya, dan terutama berkah bagi yang papa karena teratasi kekurangan kebutuhan hidupnya.
Tapi, bisa jadi juga bahwa kemurahan kita pada bulan Ramadhan untuk berbagi kelebihan ini masih dilandasi perhitungan. Sebab, segala amal kebaikan di bulan Ramadhan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Nah, jangan-jangan kebaikan yang kita lakukan masih juga dilandasi tujuan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Kalau memang demikian niatnya, tentu Allah yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana punya perhitungan tersendiri pula. Wallahua’lam.
Di sisi lain, setiap Ramadhan tiba selalu saja diiringi oleh semakin banyaknya peminta-minta. Bahkan orang yang sehat wal afiat pun tanpa malu-malu menadahkan tangannya. Juga mereka yang muda, yang masih gagah perkasa, tak sungkan-sungkan memperlihatkan wajah muram agar mengundang belas kasihan.
Meski demikian, selalu saja ada orang kekurangan, bahkan orang yang teramat sangat kekurangan, yang begitu teguh hati menerima keadaan. Selalu ada orang buta yang tak mau memohon belas kasihan. Selalu ada orang lumpuh yang tak rela menadahkan tangan. Selalu ada orang tak punya tangan yang enggan minta santunan.
Setidaknya demikianlah dikisahkan dalam buku “Excellent Stories” terbitan Husaini Shia Islamic Centre Wood Lane, Stanmore-United Kingdom, yang diterjemahkan oleh Nailul Aksa menjadi “Cerita Cerita Favorit”. Dikisahkan, pada suatu ketika Nabi Isa as bertanya kepada Allah tentang orang yang kala itu paling dekat dengan-Nya. Allah pun memberikan petunjuk kepada Nabi Isa agar menemui orang bernama Mu’mina. Yakni seorang wanita yang tak memiliki kaki, tak memiliki tangan, dan juga tak memiliki mata. Ia hidup cuma dari belas kasihan orang yang lewat. Ia tak pernah menadahkan tangan, tapi selalu bersyukur kepada Allah. “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah memberi anugerah kepadaku sedemikian banyaknya…,” ujarnya selalu, tanpa henti.
Mendengar itu, Nabi Isa pun keheranan, bagaimana mungkin orang yang sangat kekurangan ini bisa berkata demikian?
Dan Mu’mina dengan tenang menjawab, “Dia telah menganugerahkan kepadaku ingatan kepada-Nya. Dia telah melepaskanku dari kaki yang akan berjalan pada jalan yang haram. Dia telah melepaskanku dari tangan yang akan melakukan tindakan haram. Dia telah melepaskanku dari mata yang akan memandang yang haram. Dan lidahku telah dianugerahi-Nya dengan pujian kepada-Nya, Alhamdulillah. Katakan kepadaku, berapa nilai keberkahan dari semua anugerah Allah itu?” ujarnya.(Almin Hatta)
Helma Sani (Indonesia) wroteon August 26, 2009 at 8:38am
Pada intinya kita harus banyak bersykur… dan harus dibuktikan dalam kehidupan ya..
Margianto Tjokroaminoto (Indonesia) wroteon August 27, 2009 at 9:29am
Suatu sat aku ketemu seorang cleaning service yang gajinya pas-pasan malah bisa dibilang jauh dibawah UMR,sekitar 650 000 Rupiah perbulan,kalau malam dia bersama istrinya membeli singkong di pasar Mampang untuk dibikin keripik pedas,untuk dijual ke warung2.Aku terharu dengan ceritanya tanpa tunggu lama2 aku bersilaturahmi ke rumahnya,ternyata disana adalah sebuah keluarga sederhana yang taat beribadah,2 orang adiknya menganggur,adiknya masih kecil2,anaknya masih 3 tahun ,sebaya anakku.Aku berpikir keras untuk bisa membantu keluarga ini walaupun aku bukan orang kaya dan baru merintis usaha.Kalau dikasih 100 atau 200 ribu tentu habis dalam hitungan hari,aku akn membantu menjadikan mereka karyawanku .
Ali Akbar (Indonesia) wroteabout an hour ago
Berarti yang MAHAL itu bukan tangan, kaki dan mata, tapi NIKMAT mendapatkan INGATAN (otak) apalagi menjadikannya alat MENGINGAT Allaah ;p
*Shalawat*





Madu Perhutani