Sep 19, 2009

Posted by admin in Featured articles, Inspirasi, Motivasi, Pendidikan | 0 Comments

Habibie & Dewa di Kick Andy Off-air

Habibie & Dewa di Kick Andy Off-air

Sore yang cerah Sabtu, 16 Mei 2009. Saya dan Habibie menuju Sogo Senayan lantai 5 tepatnya di Toko Buku Kinokuniya, toko ini termasuk toko buku papan atas. Untuk memenuhi undangan Bang Andy Noya di acara Kick Andy Off-Air Diskusi Buku Andy’s Corner 2. Dengan 2 narasumber yang diundang Dewa + Ibu Poppy dan Habibie Afsyah + saya.

Acara dibuka dengan tegur sapa manis mas Husein, disambut dengan tepuk tangan meriah audience. Diawali dengan berbagi hadiah dan pertanyaan-2 ringan tentang buku Andy’s Corner, yang disambut antusias oleh audience. Tak lama kemudian Bang Andy Noya membuka acara dengan sapa dan memanggil Dewa dan Ibu Poppy sebagai narasumber pertama.

Ibu Poppy yang cantik datang dengan menggendong puteranya yang berusia 6 tahun yang namanya Dewa. Setelah memperkenalkan diri Ibu Poppy menceritakan tentang putera semata wayangnya, yang menderita Cereble Palsy.

IYA Sogo Sena

Acara Kick Andy Off-Air, di Toko Buku KINOKUN

yan lt 5 tadi sore sangat berkesan. Tanya jawab yg seru membuat audience terharu….. sempat turun hujan,…. air mata. Melihat dan mendengarkan dua narasumber berbagi cerita ttg pengalaman merawat buah hatinya : Dewa & Ibu Poppy dan Habibie Afsyah & Ibu Endang. Terima kasih atas perhatian dan dukungan Tim Kick Andy dan Audience.

Audience yang hadir kebanyakan pengunjung toko buku, Netpreneur teman-2 Habibie ada juga teman dari TDA ( Tangan Di Atas ) dan member dari Andy’s Corner Book Club. Senang sekali saya bisa berkenalan dengan kelompok Ibu-2 dari Rumah Singgah yang aktif mengelola dan membantu penderita kanker yang akan berobat ke RSCM.

Kelompok Ibu-2 ini ada Ibu Pinta Manulang Panggabean, Ibu Retno Palupi saya senang berkenalan dengan mereka. Ternyata Ibu Retno Palupi A Noya ini adalah istrinya Bang Andy Noya, saya sudah kenal dengan Suaminya tapi baru kali ini bisa ketemu istrinya.

Ibu Pinta dan Ibu Upik begitu panggilan istri bang Andy sehari-hari, memiliki kegiatan yang sangat mulia. Beliau mengelola sebuah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia ( Indonesian Care for Cancer Kids Founddation ) dan menyediakan rumah singgah bagi penderita cancer yang akan menjalani perawatan dan pengobatan di RSCM. Namanya Rumah Kita yang beralamat di Jl. Percetakan IX No. 3. Jakarta Pusat. Telp. 021.424.3128.

Renungan dan Catatan dari Diskusi Buku Andy’s Corner 2
Catatan : Ayu Windiyaningrum.
Thursday, May 21, 2009 at 6:57pm

Untuk ketigakalinya, Kick Andy Book Club melakukan diskusi buku. Kali ini diskusi yang bertempat di Kinokuniya pada Sabtu, 16 Mei 2009 lalu ini membahas buku Andy’s Corner 2. Sebuah buku yang merupakan catatan dari setiap episode yang dihadirkan dalam tayangan Kick Andy. Dan kali ini menghadirkan Habibie Afsyah dan Dewa. Keduanya adalah narasumber Kick Andy episode Kasih Tiada Bertepi.

Habibie Afsyah adalah seorang penderita Muscular Distrophy, pelemahan otot yang terjadi karena adanya faktor genetik, berupa kelainan pada kromosom. Akibatnya, ia mengalami kelumpuhan pada anggota geraknya. Kondisinya juga terus memburuk. Bahkan kini ia hanya dapat mengetik dengan telunjuk kanannya saja. Bukan itu saja, sudah sejak lama dokter memberikan vonisnya pada Habibie, kalau ia tidak akan berumur panjang. Tapi toh semangat dan perjuangannya membuktikan kalau ia masih bisa menjalani hidupnya hingga usianya yang ke 21 saat ini. Bahkan kini ia berprofesi sebagai seorang internet marketer dan kerap diundang sebagai pembicara. Penghasilannya juga tidak main-main, setiap bulannya dapat mencapai 10 juta.

Endang Setyati, sang ibu tidak pernah menduga kalau anak yang dilahirkannya akan menjalani hidup dengan keterbatasan gerak. Toh ia tidak dapat memilih pemberian Tuhan.

Untuk dapat menunjang perkembangan Habibie, Ibu Endang mengikutsertakan Habibie pada berbagai jenis terapi untuk melatih anggota geraknya, seperti fisioterapi. Akan tetapi, saat ini Habibie sudah tidak mau lagi mengikuti terapi. Ia merasa trauma untuk mengikuti terapi. Terapi dinilai sebagai sesuatu yang menyakitkan. Habibie tidak keberatan untuk menjalani berbagi pengobatan, ke dokter ataupun rumah sakit, tetapi ia tidak mau lagi mengikuti terapi. Trauma Habibie terhadap terapi ini baru diketahui Ibu Endang dari tulisan Habibie pada buku yang sedang ditulisnya. Habibie saat ini sedang menuliskan kisahnya. Sebuah catatan yang akan ditinggalkannya, saat dokter mengatakan kalau usianya hanya tinggal empat tahun lagi.

Kondisi Habibie saat ini terus menurun. Dokter bahkan menyatakan kalau ia sekarang menderita Skoliosis (kelainan pada otot yang menyebabkan badan melengkung menyerupai huruf S), tiposis (dada ke depan), anthropi (tangan kiri sudah tidak berfungsi), serta kelumpuhan pada kedua kaki. Alat geraknya yang masih berfungsi adalah jari telunjuk tangan kanannya, dan dengan jari inilah ia mengetik, menuliskan naskah bukunya, serta berkelana di dunia maya (internet). Saat ini pernafasannya masih berfungsi dengan baik, hanya saja kalau posisi duduknya tidak nyaman, ia dapat terus terbatuk-batuk.

Habibie tentu tidak dapat tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Saat teman-temannya menikmati aneka wahana permainan di Dunia Fantasi, maka ia hanya dapat melihatnya dari luar arena permainan sambil makan ice cream dan memendam rasa iri. Tapi Habibie juga tidak mau marah dan menyalahkan Tuhan atas kondisinya saat ini. Ia yakin, inilah jalan terbaik yang telah dipilihkan untuk hidupnya.

Saat ini, Habibie juga memiliki Yayasan Habibie Afsyah, yang bergerak untuk memberdayakan anak-anak seperti Habibie. Anak-anak yang kemampuan kognitifnya masih berfungsi dengan sangat baik, namun fisiknya tidak mendukung. 10% dari penghasilan Habibie didonasikan untuk yayasan tersebut. Melalui buku dan yayasan Habibie ini, Ibu Endang berharap sekalipun kelak walaupun Habibie sudah tidak ada, tetapi ia masih dapat berarti bagi sesamanya.

Setiap orang yang hadir kemudian dikejutkan dengan sosok Dewantara Soepardi. Seorang bocah laki-laki tampan berusia 6 tahun. Dewa, begitu ia biasa disapa terlahir prematur dan didiagnosa menderita Brain Injured (Cerebral Palsy type tetraplegia – diplegia). Dewa berkomunikasi dengan menggunakan Facilitator Communication (FC) bersama orangtuanya.

Poppy, sang ibu tidak ingin sedih berlarut-larut. Ia pun mencari berbagai alternative pengobatan untuk Dewa, bahkan hingga ke Philadelphia. Mereka kemudian menjalani metode Glenn Doman. Dan perlahan, Dewa mulai dapat berkomunikasi, meski dibantu oleh alat yang disebutnya facilitator communication. Dewa juga muai mengembangkan kemampuannya. Dewa sangat suka menulis puisi. Bahkan kumpulan puisinya sudah dibukukan dalam buku “Suara Hati Dewa”.

Apa pun kondisi Dewa, Ibu Poppy dan suaminya akan memberikan yang terbaik untuk Dewa. Agar lebih konsentrasi menjaga Dewa, Poppy bahkan meninggalkan pekerjaan di perusahaan pialang. Prinsip mereka adalah “jangan kita melihat sakitnya apa, tapi apa yang kita bisa perbuat untuk nantinya”. Pada akhirnya Ibu Poppy dapat menerima Dewa dengan cerebral palsy-nya dan menyiapkan Dewa untuk masa depannya.

Sebelum tampil di Kick Andy pada episode Kasih Tiada Bertepi, Dewa menuliskan puisinya sebagai berikut :

”Om Andy Aku Datang”

Suatu nuansa bicara
Jauhkan dosa dunia
Akan jelang cinta Tuhan
Tidak hanya di dunia
Tapi juga disisiNya

Tuhan..disini aku cerita
Tentang hidup seorang anak manusia
Akulah dia..

Inikah duniaku
Cinta tak pernah bohong

Bila cintaku datang
Jangan kau ijinkan ia pergi
Apabila arus hidupku terhalang batu
Singkirkan halangan itu dengan doaku

Suaraku kini didengar
Dinegeriku Indonesia
Akupun bahagia
Terima kasih Tuhan
Akupun tersenyum manja

Salah seorang peserta diskusi yang anggota keluarganya meninggal akibat muscular distrophy mengungkapkan sebuah pernyataan yang menarik, “… Habibie dan Dewa memang punya kekurangan. Kalau tidak, maka mereka akan terlalu sempurna sebagai manusia, seperti malaikat.” Bagi Ibu Poppy dan Ibu Endang, Dewa dan Habibie adalah harta mereka, simpanan mereka untuk mencapai surgaNya. Mereka pernah mempertanyakan pada Yang Maha Membuat Rencana, mengapa mereka yang ditimpakan cobaan itu. Tapi kemudian, kehidupan yang mengajarkan, bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang terpilih untuk menerima karuniaNya, seorang anak luar biasa. Habibie dan Ibu Endang, Dewa dan Ibu Poppy, terimakasih untuk pelajarannya tentang hidup.

“…ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?.” -Gede Prama-

Share on Facebook Share on Twitter

6 tanggapan untuk “Habibie & Dewa di Kick Andy Off-Air.”

  1. adi suryanto,
    — 15 September 2009 jam 1:59 am
    tulisan yg sangat baik dan menyentuh. tolong sampaikan salam simpati dan doa saya dari jauh (sao paulo – brasil) buat bu endang dan habibie serta bu poppy dan dewa, semoga selalu diberi kekuatan dan ketabahan olehNYA

  2. Nining Hari Purwanto,
    — 15 September 2009 jam 2:59 am
    Saya bangga dengan prestasi Habibie dan Dewa – prestasinya melebihi kita semua. Salut saya sangat kepada Ibunda Endang dan Ibunda Poppy . . . kasih ibu sepanjang masa sehingga membuat anak-anak hidup sangat bermakna bagi orang lain.

  3. hadi,
    — 15 September 2009 jam 3:01 am
    Setelah membaca tulisan tadi, kita2 yg diberikan rahmat sehat & normal pd umunya seyogyanya banyak2 bersyukur pada Sang Khalik Yang Maha Pencipta…buat bu endang, habibie, bu popy, dewa salam sayang dari jauh…, semoga pelajaran hidup yg penuh makna dari sampeyan2 ini membukakan mata, hati & pikiran kita utk lebih menghargai apa yg telah dikaruniakanNya kepada kita…Salam Sukses buat Bang Andy.

  4. Budi Suharyono,
    — 15 September 2009 jam 4:37 am
    Dia masih muda dan penuh dengan kekurangan,tapi dia sangat pandai mejalani dan memaknai hidup.

  5. Ibu Habibie,
    — 15 September 2009 jam 5:24 am
    @ Adi Suryanto : Makasih salam dan doanya, semoga Allah mengabulkan doa Anda yg dikirim dari nun jauh disana. Doa Anda bermanfaat buat kami semua dan semoga Allah jg melimpahkan rahmat & ridho Nya buat Anda sekeluarga.

    @ Nining Hari Purwanto : Tks, anda telah membaca tulisan saya yg sederhana dan Renungan dari mbak Ayu W Tim Kreatif Kick Andy, seorang Ibu memang harus mencintai dan mengasihi anaknya bagaimanapun keadaannya yg lemah, yg cantik, yg ganteng harus dapat porsi yg sama.

    @ Hadi : Jika Allah memberikan cobaan dalam hidup ini, sebaiknya sabar dan ikhlas menerimanya. Jika Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan alangkah baiknya kita selalu mensyukurinya agar Allah melimpahkan & menambahkan nikmatnya terus menerus dan tak pernah putus….. Amin. Begitulah kami menyikapi keadaan.

    Anda jauhnya dimana? Sepertinya pembaca tadi malam dari jauh semua ya. Pak Adi dari Brasil, Pak Hadi dari Amerika ya? Ternyata penggemar Kompasiana.com dari jauh-2….. Yang rindu kampung halaman, semoga Kompasiana bisa sebagai penawar kerinduan.

    Salam hangat kami buat Anda semua.

  6. Ibu Habibie,
    — 15 September 2009 jam 5:37 am
    @ Budi Suharyanto : Saya mencoba tegar dalam menjalani hidup, krn hidup dan kehidupan adalah pemberian/karunia Allah yg layak kita nikmati & syukuri bukan kita sesali. Mungkin begitulah cara kami memperoleh kebahagiaan. Saya tidak mau tenggelam dalam duka. Umur yg Allah berikan minimum hrs bermanfaat buat diri sendiri. Syukur-2 jg buat orang lain….. Makasih.

kirim komentar

Leave a Reply