Jamil Azzaini

Anda tahu bagaimana cara menjinakkan gajah liar itu? Pertama, tembak gajah itu dengan obat bius. Kedua, ikat gajah itu dengan rantai dan ikatkan di pohon yang besar. Setelah siuman gajah akan lari, tapi karena kakinya diikat dengan rantai maka gajah itu pasti akan terjatuh.
Setelah terjatuh dia bangun lagi, lari…dan jatuh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Setelah gajah lelah datanglah pawang gajah memberinya makan. Ketika gajah memiliki tenaga baru dia berusaha lari lagi… dan terjatuh lagi. Lalu datang lagi pawang, memberi makan. Fragmen seperti itu terus berulang sampai kira-kira selama dua pekan.
Di pekan ketiga sang pawang akan mengganti rantai yang mengikat kaki gajah dengan tali plastik. Akankah si gajah mencoba berontak lagi? Ternyata tidak. Mengapa? Dia takut terjatuh. Dia sudah punya pengalaman berkali-kali di dua pekan sebelumnya, kalau dia berlari pasti terjatuh.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kemampuan gajah berkurang dan dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai mati nanti, kehidupan gajah dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bila sudah begini, dia tak mau lagi berjalan lebih dari 40 kilometer. Dia tak mau lagi mencari makanan sendiri. ”Toh nanti ada yang antar”, pikir si gajah.
Sesungguhnya, di dalam diri pun banyak “rantai gajah”. ”Tak mungkin saya berhasil, saya kan bukan sarjana” ; ”Nggak mungkin saya sukses. Bapak dan kakek buyut saya kan kere, garis keturunan saya adalah garis kere” ; ”Nggak mungkin saya berwirausaha, darah saya kan jawa, cocoknya pegawai negeri”. Ungkapan-ungkapan diri seperti itulah yang saya katakan sebagai “rantai gajah” dalam diri kita.
“Rantai gajah” juga bisa mewujud untuk membatasi pikiran ketika mendapati kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagainya. Ini tentu akan menghambat prestasi dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kemampuan optimum kita pun tak pernah tercermin dalam aktivitas sehari-hari.
Bila kita ingin potensi yang sesungguhnya muncul, kita harus take action untuk membuang “rantai gajah” dalam diri. Lihatlah Ucok Baba, aktor bertubuh mungil, atau Tukul Arwana yang sosoknya oleh dirinya sendiri diakui sebagai sosok “wong ndeso” (orang kampung—red), mampu menjadi presenter di televisi.
Anda tentu juga mengenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan gagu tapi dia mampu lulus dari Harvard University. Kita juga pasti kenal Hee Ah Lee, seorang yang hanya memiliki empat jari; dua di kanan, dua di kiri, namun ia menjadi pianis hebat dunia dan sudah menggelar konser di berbagai negara.
Pendidikan juga tak boleh menjadi “rantai gajah”. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya namun mampu menjadi “raja” komputer dan orang terkaya di dunia saat ini.
Kemiskinan pun tak boleh menjadi rantai gajah. Mantan Meneg BUMN Sugiharto pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli pelabuhan. Kemiskinan tak menghalanginya untuk terus maju. Kemiskinan juga melilit masa lalu kehidupan Sylvester Stallone, yang kini menjadi bintang Hollywood papan atas.
Mari segera buang “rantai gajah” yang masih melekat dalam diri agar kita mampu menembus berbagai keterbatasan. (***)
* Penulis adalah seorang inspirator Sukses Mulia
COPYRIGHT © 2009
Sangat inspiratif, siapapun berhak untuk sukses.
Saatnya untuk berubah…… TIME TO CHANGE !!!!!
Asal berani berjuang menembus batas kelemahan-2 yg kita miliki….. JUST DO IT !!!!!
Habibie Afsyah bisa….. Anda pun pasti bisa.
Saya pun berjalan pada sisi, anti rantai gajah… meskipun sulit. Saya yakin ijazah dan segala macam kertas ituh, hanya akan membelenggu kita kalau mindset kita hanya mengandalkan itu
if u think u can, u could…
what u believe is what u become
Rantai gajahnya kita putuskan dan gajahnya kita ajak kerjasama