Ratna Sari Dewi, Sang Pujaan Hati. Beliau memang WANITA LUAR BIASA

Masih cerita tentang Ibu Dewi Soekarno, beliau memang Wanita Luar Biasa. Benar bahwa banyak orang yang pro dan kontra kepadanya, tapi bagi saya beliau tetap WANITA LUAR BIASA. Selebihnya terserah penilaian Anda. Beliau adalah wanita yang cantik, banyak orang mengkuinya, cerdas, mulia, dan tipe wanita setia karena sejak terpisah dari suaminya beliau  tidak pernah menikah. Ini faktanya. Yang memuji dan yang mencaci mungkin sama banyaknya apalagi setelah terbit bukunya.

Madame de  Syuga, buku yang sangat terkenal dan  kontroversial tidak hanya di Indonesia bahkan didunia. Banyak orang mencela, tapi lebih banyak yang suka walaupun secara diam-2 dan sembunyi-sembunyi. Jujur saja,  saya  sengaja melihatnya dengan cara pinjam dari seorang teman yang baru pulang dari luar negeri, sebagai ol-ol katanya. Mau tau maksudnya, sebagai oleh-oleh jelasnya.

Decak kagum terdengar suara setiap orang yang melihatnya. Paduan dari karya seni, body painting dan indahnya  lekuk tubuh pemiliknya. Siapa lagi kalo bukan Ratna Sari Dewi namanya. Sang Wanita Luar Biasa, Istri ke 4 Mantan Presiden kita. Yang sangat populer dengan sebutan : PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT.

Saya percaya Mantan Presiden RI Pertama ini sangat lekat dihati rakyat dan bangsa Indonesia, saya yakin kecintaan bangsa Indonesia kepadanya melebihi cintanya pada presiden-2 penerus dan penggantinya. Bagaimana dengan anda, kalo ternyata pendapat Anda berbeda, maafkan saya. Telah salah menerka.

Dibawah ini saya akan menurunkan beberapa artikel menarik, sebagai lanjutan artikel sebelumnya. Harapan saya semoga masih ada pengagum dan penggemar yang mau tau dan ingin tau bagaimana cerita yang sebenarnya. Tentu saja ini bukan tulisan pribadi saya. Seorang sahabat online mbak Nining panggilan akrabnya, telah mengirim ke email saya. Dengan senang hati saya ingin berbagi  dengan pengunjung setia blog saya yang sederhana.

Sekali lagi trima kasih u/Sri Murniningtyas, sahabat online ku.

Ratna Sari Dewi, Sang Pujaan Hati

BK dan Dewi berkimono di Jepang

Bung Karno pernah ditulis wartawan suratkabar Amerika, sebagai pria yang gemar melirikkan mata kepada wanita-wanita cantik. Atas tulisan tersebut, Bung Karno menyangkal keras. “Yang benar adalah, Bung Karno menatap setiap perempuan cantik dengan kedua bulatan matanya….” Ia mengagumi setiap bentuk keindahan. Ia menarik nafas dalam-dalam setiap menatap hamparan pemandangan negerinya yang molek. Ia mengagungkan asma Allah setiap melihat wanita cantik ciptaanNya.

Terhadap wanita-wanita yang mengisi hatinya, semua mendapat tempat yang begitu mulia di hati Sukarno. Inggit Garnasih sebagai perempuan gigih, penyayang, dan mendukungnya sejak era pergerakan hingga menjelang Indonesia merdeka. Fatmawati? Ia gadis 19 tahun yang ceria, saat dinikahi. Fatma pun ditaburi cinta Sukarno, karena dia adalah penopang semangat Sukarno di awal-awal republik berdiri.

Hartini? Ah… dialah pembuat sayur lodeh paling enak di lidah Bung Karno. Kesadarannya sebagai “madu”, memposisikan Hartini menjadi seorang istri yang begitu berbakti. Karenanya, Bung Karno membalasnya dengan luapan asmara tiada tara. Tak heran jika dalam wasiatnya, Bung Karno ingin dimakamkan berdampingan dengan Hartini.

Kecantikan Ratna Sari Dewi

Bagaimana pula dengan Naoko Nemoto? Dialah geisha yang begitu sempurna di mata Sukarno. Kecantikannya begitu mempesona, sehingga tak kuasa Sukarno meredam hasrat cintanya yang berkobar-kobar. Gadis Jepang ini lahir tahun 1940, sebagai anak perempuan ketiga seorang pekerja bangunan di Tokyo. Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai ia lulus sekolah lanjutan pertama pada tahun 1955.

Setahun kemudian, ia mengundurkan diri, dan menekuni profesio geisha Akasaka’s Copacabana yang megah, salah satu kelab malam favorit yang sering dikunjungi para tamu asing. Ke kelab inilah Sukarno datang pada 16 Juni 1959. Bertemu Naoko, dan jatuhlah hatinya. Setelah itu, Bung Karno masih bertemu Naoko dua kali di hotel Imperial, tempat Bung Karno menginap. Akan tetapi, versi lain menyebutkan, pertemuan keduanya terjadi setahun sebelumnya, di tempat yang sama.

Usai lawatan dua pekan, Bung Karno kembali ke Jakarta. Tapi sungguh, hatinya tertinggal di Tokyo… hatinya melekat pada gadis cantik pemilik sorot mata lembut menusuk, sungging senyum yang lekat membekas. Seperti biasa, Bung Karno mengekspresikan hatinya melalui surat-surat cinta. Cinta tak bertepuk sebelah tangan. Isyarat itu ia tangkap melalui surat balasan Naoko.

bung karno dan ratna sari dewi

Tak lama, Bung Karno segera melayangkan undangan kepada Naoko untuk berkunjung ke Indonesia. Sukarno bahkan menemaninya dalam salah satu perjalanan wisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta makin subur bersemi di hati keduanya. Terlebih ketika Naoko menerima pinangan Bung Karno, dan mengganti namanya dengan nama pemberian Sukarno. Jadilah Naoko Nemoto menjadi Ratna Sari Dewi. Orang-orang kemudian menyebutnya Dewi Soekarno.

Tanggal pernikahan keduanya, ada dua versi. Satu sumber menyebut, keduanya menikah diam-diam pada tanggal 3 Maret 1962, bersamaan dengan peresmian penggunaan nama baru: Ratna Sari Dewi berikut hak kewarganegaraan Indonesia. Sumber lain menyebut mereka menikah secara resmi bulan Mei 1964. Agaknya, sumber pertamalah yang benar.

Lepas dari kapan Bung Karno menikahi Ratna Sari Dewi, akan tetapi, cinta Bung Karno kepadanya begitu meluap-luap. Jika ia bertestamen agar dimakamkan di sisi makam Hartini, maka terhadap Ratna Sari Dewi, Bung Karno bertestamen agar dimakamkan dalam satu liang.

Faktanya, Hartini dan Ratna Sari Dewi yang begitu terlibat secara emosional pada hari terakhir kehidupan Bung Karno. Hartini yang setia mendampingi di saat ajal menjemput. Hartini pun tahu, dalam keadaan setengah sadar di akhir-akhir hidupnya, Bung Karno membisikkan nama Ratna Sari Dewi. Hal itu diketahui pula oleh Rachmawati.

Rachmawati, salah satu putri Bung Karno yang paling intens mendampingi bapaknya di akhir hayat, luluh hatinya. Tak ada lagi rasa “tak suka” kepada Hartini maupun Ratna Sari Dewi. Rachma sadar, ayahnya begitu mencintai Hartini dan Dewi, sama seperti besarnya cinta Bung Karno kepada Fatmawati, ibunya.

Sumber : http://rosodaras.wordpress.com/tag/ratna-sari-dewi/

Buah asmara Bung Karno – Ratna Sari Dewi adalah seorang gadis cantik yang diberinya nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang bayi Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. (roso daras)

5 thoughts on “Ratna Sari Dewi, Sang Pujaan Hati. Beliau memang WANITA LUAR BIASA

  1. Selamat datang, dan selamat bergabung kembali. Rahmat serta hidayah Allah SWT semoga senantiasa bersama Ibu Habibie sekeluarga.

    Ki Semar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>