Buku Adalah Pembawa Pesan Peradaban

Mini Monas Buku penghargaan dari IKAPI DKI untuk Habibie Afsyah dan Irwan Dwi Kustanto.

Jum’at 2 Juli 2010 jam 15 Pesta Buku Jakarta ke 20 Tahun telah dibuka oleh Bpk. Fauzi Bowo, Gubernur KDI Jakarta. Suasana bernuansa Betawi sangat kental terasa, ada Keroncong Tugu dengan lagu-2 khas seperti Yuk Kite Nonton Ondel-2, Jali-jali dll.

Pesan moral yang disampaikan oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta adalah beliau mengajak masyarakat Jakarta untuk “gemar membaca” seperti paduan suara adik-2 yang dinyanyikan dihadapan Bpk. Fauzi Bowo. Pada kesempatan ini beliau juga memberikan penghargaan dan piala berbentuk Mini Monas kepada Habibie Afsyah penulis buku “Kelemahanku adalah kekuatanku” penerbit Gramedia Pustaka Utama dan Pak Irwan Dwi Kustanto penulis buku “Angin pun berbisik” dan kumpulan cerpen “Rakyat yang suka bertanya” penerbit Spasi.

Seandainya saja banyak anak-2 dan orang-2 Jakarta yang hobi membaca, pastilah kegiatan ini menjadikan kebiasaan yang positif buat masyarakat. Beliau juga bercerita dalam kunjungannya menjumpai warganya di tingkat RT & RW, beliau menyaksikan sendiri banyak taman-2 bacaan dilingkungan RT/RW yang diminati warga.

Nah kalo Bapak Gubernur mengajak anda untuk “Gemar Membaca” maka saya ingin mengajak anda untuk gemar menulis. Karena kegiatan membaca dan menulis ini adalah paduan kegiatan kerja otak yang sangat ideal. Membaca sebagai In-Put dan menulis adalah Out-Put nya. Kalo in-put sudah penuh kita harus buat balance nya dengan out-put berupa tulisan.

Gubernur DKI Jakarta Bpk. Fauzi Bowo berkenan foto bersama Habibie & Irwan usai menyerahkan penghargaan dan piala Mini Monas Buku.

Ilmu dasar yang diberikan pada setiap insan didunia ini adalah membaca dan menulis. Sejak dari jaman nenek-moyang sampai jaman Cucu dan Cicit masa kini. Pelajaran dasar yg harus dikuasai adalah membaca & menulis karena membaca dan menulis adalah peletak semua ilmu.

Buku dan Penulis adalah pembawa pesan peradaban. Iya bener, setiap peradaban selalu ditinggalkan dalam bentu tulisan. Lihat saja sejak dahulu kala ditemukan jejak-2 kehidupan dalam bentuk peninggalan-2 purbakala pada batu-batu misalnya dalam bentuk candi-2 sebagai lambang dan jejak-2 kehidupan pada jamannya. Orang biasa menyebut jaman batu. Karena pada saat itu belum diketemukan huruf jadi manusia-2 purba meninggalkan jejak dalam bentuk prasasti yang memiliki lambang-2 peradaban. Masing-masing wilayah memiliki lambang-lambang ato tanda-tanda yang berbeda.

Setelah manusia mengenal huruf dan sarana-2 lain yang lebih maju maka jejak peradaban pun berubah dari menulis diatas batu menjadi tulisan diatas daun lontar seperti banyak diketemukan dibelahan Indonesia bagian timur. Setelah jaman lebih maju penemuan huruf latin menjadi acuan tulisan berskala global dan mendunia, juga diketemukannya kertas dan lain-lain sebagai sarana yang lebih flexible penggunaannya. Maka jadilah orang biasa menyebutnya dengan buku. Buku dari masa kemasa punya ciri khas. Sesuai pesan peradaban yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

Jaman terus berubah, dari media kertas buku terus berkembang. Dari mulai karya-karya tulis anak bangsa sampai buku-buku import asli dan terjemahan banjir dinegeri kita. Ada buku Harry Poter, Chicken Soup for The Writer’s Soul dll. Sekarang manusia tidak hanya menulis diatas kertas untuk berekspresi dan membawa pesan peradaban. Bahkan sekarang orang menulis sudah sampai kedunia lain, yang sering disebut dunia maya.

Ebook “Sukses Dari Amazon” dipasarkan secara online dari Juni ‘08 – Juli ‘09.

Ya betul menulis dan menuangkan karya dan kreatifitasnya untuk berbagai keperluan. didunia online ato menulis dengan cara digital seperti Sandek/SMS, MMS, Email, Blog, Facebook, Twitter. Bahkan buku-buku masa kini juga banyak yang ditulis secara online dan biasa disebut Ebook ato Electrick Book.
Seperti ebook “Sukses Dari Amazon” karya Habibie Afsyah, “Uang Panas” karya Haryo Prabowo.

Sesaat setelah penyerahan kenang-2an berupa Buku dan CD profil Habibie Afsyah.

Harapan saya semoga makin banyak masyarakat kita yang menyadari pentingnya membaca dan menulis. Kalau “Gemar Membaca” sudah dicanangkan oleh Gubernur kita Bpk. Fauzi Bowo, saya ingin mengajak Ibu-Ibu di Republik Indonesia untuk “Gemar Menulis” karena saya juga sudah menulis didunia maya KLIK saja. Tanamkan semangat menulis sejak dini bagi putra-putri kita agar dunia menulis menjadi kegiatan dan nafas hidup kita sehari-hari. Seperti KLIK saja.

Menulis dari hobi menjadi profesi.
Menulis juga jadi lahan rejeki.

Tags: Buku, Habibie Afsyah, Ibu Habibie, Pesta

Surat Untuk Ibu, setiap hari ku kirim.

Kadang kala ingatan masa lalu datang mengganggu, ingat pada Alm. Ibu ku yg telah menghadap Sang Maha Pencipta pada 18 juli 2006 ( Beliau lahir tahun 1924 ). Terutama yang paling aku ingat adalah kasih sayangnya, dongeng-2nya sebelum bobok, dan motivasi-2 yg selalu beliau tanamkan agar kami semua menjadi anak yang sukses. Maklumlah karena beliau dari kecil hingga sepuh hidupnya dalam kekurangan materi dan keterbatasan ilmu. Sehingga beliau tidak ingin putera-putrinya akan mengalami nasib yang sama dengan yang beliau alami.

Sayang pada saat kami semua sudah bisa hidup seperti harapannya, beliau sudah tiada. Untuk menghibur diri dan mengenang jasa-2 beliau kami menulis Puisi ini. Juga selalu mengirim surat seperti janji ku. Insya Allah tidak pernah lupa.

Dibawah ini Puisi ku :

Ibu…..Dimata dan hati putra-putrimu,

Engkau adalah seorang Ibu yang mulia, dan dimuliakan Allah.

Engkau telah melahirkan kami, engkau ikhlas menyusui, merawat, membimbing kami.

Dan berjuang untuk kami hingga kami seperti saat ini.

Engkau selalu mengajarkan kepada kami tentang arti kejujuran yang harus diperjuangkan,

Disiplin yang harus ditegakkan dan kerja keras yang harus dilakukan ‘tuk raih cita-2.

Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, serta ridho Nya.

Engkau antarkan kami, menjadi anak-2 mandiri seperti cita-2 dan harapanmu.

Ibu,…… Diusia senjamu, engkau pun selalu rela membantu anak-2mu yang sedang kesulitan.

Dengan tenaga dan doa.

Ibu….. Kepergianmu, meninggalkan kenangan teramat dalam.

Ijinkanlah kami mengiringi kepergianmu, bukan dengan isak tangis dan air mata.

Biarlah kami mengantarmu dengan rasa ikhlas dan ridho, untuk menghadap Sang Khaliq….

Allah SWT Sang Pencipta.

Ibu,….. Maafkanlah kami bila kami belum bisa membahagiakanmu.

Belum puas kami berbagi bahagia denganmu.

Ingin rasanya kami buatkan sorga….. Jannatun Naim untuk mu Ibu…..

Setiap hari, setiap saat…… Insya Allah, kami akan selalu mengirim surat padamu Ibu……

Surat Al-Fatihah serta doa memohonkan ampunan Nya.

Robbighfirli waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

Yaa Allah,….. Semoga seluruh amal ibadah, kebaikan dan pengorbanannya Engkau terima……

Semoga segala khilaf dan salahnya Engkau ampuni…..

Semoga arwah beliau, Engkau berikan tempat terbaik disisi Mu.

Ibu….. aku ingin sepertimu dan memperoleh sorgamu.

Ditulis ulang, 2 April 2010.

Putra-putrimu : Endang, Kuncoro, Woro ( sekarang Almarhum )

DON’T CRACK UNDER PRESSURE

Ini adalah sepenggal kisah tentang orang-orang yang pantang menyerah dengan keterbatasan secara fisik. Sikap dan cara mereka menghadapi kehidupan malah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Begitulah tulisan yang menjadi sub judul dimajalah Motivasi “LUAR BIASA” yang terbit pada bulan Maret 2009. Majalah motivasi ini terbit secara berkala sebulan sekali, terbit pertama pada bulan Januari 2009.

Bunuh Diri Bergeser ke Usia Produktif

Aku sangat prihatin bahkan sedih melihat kondisi saat ini dimana pengangguran dikalangan para entelektual  muda makin meningkat. Lihat saja setiap ada iklan tentang lowongan kerja dibuka, maka ribuan bahkan puluhan ribu kalangan muda terdidik ( S1 ) akan berduyun-duyun datang untuk mengadu nasib. Siapa tau bisa meraih peluang yang ada.


Suatu hari diperjalanan ku dari Jakarta-Magelang buat iseng isi waktu diperjalanan aku beli harian Kompas terbitan Rabu 23 Februari 2010. Buka sana buka sini ketemu sebuah artikel menarik dibawah ini, tentang bunuh diri yang terjadi dikalangan remaja. Disamping ini aku lampirkan berita/artikel dari harian Kompas dimaksud berjudul : Bunuh Diri Bergeser Pada Usia Produktif. Sungguh memprihatinkan ya? Ternyata Indonesia juga sudah kena dampaknya.

Sekitar pertengahan Februari 2010 ada email masuk ke akun Facebook anak ku dari seseorang yang belum aku kenal, namanya Panji Suntara.  Kami sempat bertegur sapa dan saling memperkenalkan diri via email, komunikasi pun berlanjut by phone. Ngomong-ngomong lebih lanjut mas Panji seorang produser film spesial  lomba-2 ilmiah untuk kejuaraan dunia ingin menjadikan anakku menjadi roll model filmnya.  Habibie menyetujui, saya dan mas Panji membuat kesepakatan untuk menjalin kerja sama.

Singkat cerita,  mas Panji ingin membuat film layanan masyarakat berdurasi paling lama 2 menit, yang rencananya akan dilombakan di World-Bank. Alhamdulillah Habibie terpilih menjadi roll model…. wah kaget juga lo. To the point saja ya,  mas Panji itu sedang cari-2 figur seorang anak muda yg mandiri…… kemana lagi kalo gak tanya ke Om Google. Akhirnya ketemulah sosok Habibie Afsyah disana, yang menurut penilaian mas Panji cocok dengan figur yang diinginkannya.Sengaja mas Panji mengambil roll model seorang Habibie yang walaupun dalam kondisi penuh keterbatasan namun tetap berjuang dalam hidupannya  menjadi manusia yang mandiri. Ada pesan moral yang ingin disampaikan oleh Mas Panji sebagai produser untuk menjawab situasi yang terjadi saat ini. Bahwa seorang Habibie yang nota bene lemah namun masih punya  kekuatan dan kemampuan untuk menjalani hidup mandiri. Dijaman yang serba sulit ini untuk menata hidupnya dimasa yang akan datang lebih baik lagi.

Harapan produser semoga orang-2 yang nasibnya lebih baik dan diberikan nikmat serta kesempurnaan fisik, lebih berani menghadapi tantangan dan tuntutan jaman. Kita tidak sendirian dalam kesulitan, tengoklah mereka yang hidupnya kurang beruntung tapi berani melawan arus kehidupan yang sedang tidak berpihak ini.

Cerita punya cerita, konon katanya dunia sedang prihatin menghadapi keadaan yang sangat tidak kondusif, dengan maraknya pengangguran yang sedang melanda dunia. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja hal ini terjadi bahkan negara-2 maju dan negara industri pun juga mengalaminya. Tentu saja hal ini membuat pihak-2 tertentu tidak bisa tinggal diam. Badan dunia WHO dan World-Bank pun sangat peduli dan mencari solusi untuk mengatasinya. Terlebih bagi Negara-2 berkembang mendapat perhatian yang lebih besar, mengingat angka pengangguran justru terjadi pada usia-2 muda dan produktif.

Kabar buruknya lagi bahkan angka bunuh diri dikalangan remaja atau anak muda meningkat tajam, ada kabar sampai terjadi bunuh diri masal dikalangan remaja yang putus asa.

Ayolah kawan rapatkan barisan, kuatkan iman dan kemauan mu dengan terus bekerja keras dan berpikir cerdas untuk merubah dan meraih kehidupan lebih baik.

Harapan ku semoga film ini memperoleh penghargaan tertinggi di kancah lomba Bank Dunia (World-Bank). Mengingat lomba tahun 2009 juga dimenangkan oleh Indonesia dengan tema Global Warming.

KLIK saja :  http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/19/habibie-ikut-lomba-di-world-bank/

Insya Allah….. BE NUMBER 1….. Mohon doa restu Anda semua.

Sebarkan Tulisan ini :

Tanggapan Tulisan

19 Maret 2010 13:55
0

Ibu Habibie… bravo! Semoga menang ya. Bagaimana kabar Ibu dan berbagai anak asuh yang selalu dibimbing tanpa lelah?
Salam hangat Kompasiana !

19 Maret 2010 14:05
0

saya kira BJ habibie :)

19 Maret 2010 15:41
0

@ Linda : Hallo ibu Linda makasih komennya, mohon doanya ya bisa menang. Maklum pesaingnya dari negara lain pasti juga hebat-2. Alhamdulillah Bu mereka masih terus berjuang u/bisa mandiri.
Salam Kompasiana juga.

19 Maret 2010 15:44
0

@ Tarzanningrat : Iya pak Tarzan saya lg coba-2 praktek membuat judul yg menjebak seperti tulisan teman-2 Kompasianer lain. Learning by doing, gitu.